Monday, 10 August 2020

Dua Kekuatan Pemimpin dalam Al Quran

Dua Kekuatan Pemimpin dalam Al Quran
Al Quwwah (ketegasan) dan al Amanah (kepercayaan) adalah 2 kekuatan yang penting bagi seorang pemimpin.

Dua Kekuatan Pemimpin dalam Al Quran

Al Quwwah (ketegasan) berkaitan erat dengan manajemen kepemimpinan. Sedang al Amanah (kepercayaan) terkait dengan akhlak seorang pemimpin. Perisai yang melindungi diri dari kecintaan terhadap harta dan kedudukan secara berlebihan. 
Sangat sulit menemukan keseimbangan dua kekuatan ini pada satu pribadi. Tidak juga pada semua sahabat Nabi.

Menurut Syaikh Muhammad Mukhtar Asy Syinqithi, hanya beberapa yang memilikinya. Satu diantaranya adalah Umar bin Khattab. 

Hal ini tidak terlepas dari Sisi kemanusiaan para sahabat. Ada sahabat yang punya kecenderungan pada satu sifat sedang sifat lain disempurnakan oleh sahabat yang lain. 

Khälid bin Walid adalah contoh bagaimana sifat keberanian dan ketegasan melekat pada pribadinya. la adalah panglima yang sangat ditakuti oleh semua lawan. Sebut saja Theodore Trithyrius, yang pernah ia kalahkan pada perang Yarmuk. 

Namun Sisi keberanian yang sangat dominan tidak jarang mengalahkan sifat amanah. Hal ini yang membuat Rasulullah sampai berdoa, "Ya, Allah sesungguhnya Aku berlepas diri dari semua yang diperbuat Khälid", saking pemberaninya Khalid yang sudah ditandingi oleh sahabat-sahabat lainnya. 

Contoh lain adalah Abu Dzar Al-Ghifari dan Usman bin Affan. 

Abu Dzar al-Ghifari adalah sahabat yang sangat sederhana, cenderung lembut lagi zuhud. Namun punya kelemahan soal ketegasan. Abu Dzar tidak perlu marah atau malu ketika Rasulullah memintanya menjauhi kekuasaan bahkan sekadar mengurus harta anak yatim. 

Mirip seperti Abu Dzar Al-Ghifari, takdir menggariskan Usman bin Affan sebagai pribadi yang lembut dengan Sisi amanah yang tidak diragukan. Beliau juga dikenal dengan sosok yang sangat pemalu. 

Namun kelembutannya lebih sering mengalahkan Sisi ketegasan yang seharusnya dimiliki seorang pemimpin. 

Memadu dan saling menyempurnakan; ltulah kata kunci keberhasilan kepemimpinan para sahabat dalam sejarah. 

Saat garis takdir mengharuskan Abu Bakar meneruskan kepemimpinan Umat, jadilah Umar bin Khatab sebagai pendamping. Kita tahu, bagaimana kelembutan Abu Bakar, memadu bersama ketegasan Umar bin Khattab. 

Begitupun saat Umar bin Khatab mengambil alih kepemimpinan maka tampillah Usman bin Affan menggantikan kedudukan Abu Bakar. 

Kelembutan Usman menyempurnakan watak keras Umar bin Khattab. Utsman bahkan mendapat gelar Arradtf, tempat bertanya, atas perannya pada kepemimpinan Umar bin Khattab. 

Tidak sedikit kebijakan Umar yang lahir dari ide kreatif Usman bin Affan. Sebut saja tentang penanggalan hijriyah dan kebijakan untuk tidak membagi tanah rampasan pada pasukan muslim. 

Dalam urusan militer, Khalifah Abu Bakar yang lembut memilih Khalid bin Walid yang dikenal keras dan tegas. Berbeda dengan Umar bin Khattab yang mengganti Khalid bin Walid dengan Abu Ubaidah yang dikenal lebih lembut. 

Inilah faktanya, bahwa sahabat Rasulullah adalah tetap sebagai manusia biasa yang tidak terlepas dari kekurangan dan kelemahan. Meski begitu mereka adalah generasi terbaik dalam sejarah umat. Salah satu rahasianya adalah karena kontribusi mereka terhadap agama.