Tuesday, 4 August 2020

Bagaimana Haji di Masa Lalu?

Haji adalah muktamar tahunan Umat Islam sedunia. Di sana, kita memberikan sinyal pada dunia bahwa Islam menyatukan kita, meski berbeda suku bangsa, warna kulit dan cara berbahasa. Semua tumpah ruah datang ke Baitullah, menyambut seruan Allah dan menjadi tamu-Nya.


Bagaimana Haji di Masa Lalu?

Di masa lalu, para Sultan dan Khalifah sangat memperhatikan haji. Bahkan tak berlebihan jika dikatakan, kesuksesan seorang Khalifah dilihat dari bagaimana perhatiannya pada pelayan umat ketika haji; mulai dari transportasi, kamar mandi umum, pengairan, logistik makanan hingga infrastruktur.

Contohnya kalau teman-teman ke Makkah, jika ada city tour, teman-teman akan diperlihatkan kanal irigasi zaman Abbasiyah yang dibangun di masa Khalifah Harun Al Rasyid. Kanal ini merupakan Ikhtiar Abbasiyah untuk memenuhi kebutuhan air jama'ah haji yang wukuf di Arafah.

Lalu, kalau teman-teman melihat museum Masjidil Haram, di sana akan tergambarkan perhatian pemimpin Muslimin dalam pembuatan mimbar, perluasan Masjidil Haram, pembuatan gedung pusat informasi. Semuanya saling melengkapi mulai sejak Umawiyah, Abbasiyah, Mamalik hingga Utsmaniyah dan Keluarga Saud.

Di era Utsmaniyah, ada pengorganisasian kafilah haji agar tertib ketika datang ke Makkah. Ada kafilah Syam yang meliputi jama'ah haji negara-negara Syam, Azerbaijan, Kaukasus, Crimea, Anatolia, Balkan, dan terkhusus dari ibukota Kesultanan Utsmaniyah di Istanbul.

Di Istanbul sendiri, Sultan akan melepas secara resmi kafilah haji yang akan berangkat ke Makkah. Beliau juga akan memberi mandat kepada penguasa kota-kota yang akan dilalui kafilah haji agar memudahkan penyediaan logistik untuk mereka. Selain menjamin logistik, setiap walikota berkewajiban mengawal jama'ah haji dengan tentara agar terlindung dari perampok.

Kedua: kafilah Mesir, dan ini yang paling penting di masa Utsmani Karena kafilah ini terdiri dari jama'ah yang berangkat dari Mesir dan seluruh Afrika Utara dengan membawa kiswah Ka'bah untuk diganti tahunan. Kafilah ini berangkat sejak bulan Syawal akhir, berjalan 37 hari melewati Suez, Sinai, lalu Aqabah, lalu bertemu dengan Kafilah Syam. Beberapa kali, jama'ah haji Mesir berangkat menggunakan kapal dari Suez ke Jeddah.
.
Ketiga: Kafilah Iraq. Yang terdiri dari jama'ah haji dari negara-negara Arab teluk, lalu Persia. Mereka lebih sering mengutamakan transportasi kapal laut daripada berjalan kaki menuju ke Makkah.
.
Keempat: Kafilah Yaman. Kafilah ini istimewa, karena terdiri dari berbagai macam corak bangsa, seperti Nusantara, India, Malaya, Asia Selatan lainnya. Ada juga jama'ah haji dari Ethiopia dan Somalia bergabung di kafilah Yaman ini. Kesemua kafilah yang ada terdiri dari berbagai macam elemen masyarakat. Ada para orang kaya, ada bisnisman, ada diplomat, sampai rakyat jelata.
.

Bagaimana Ikhtiar Para Khalifah Untuk Melindungi Perjalanan Kafilah Haji?

.
Banyak sekali warisan bangunan berbentuk benteng dan kastil yang dibangun oleh Kesultanan Utsmaniyah di titik-titik penting rute kafilah haji. Benteng ini digunakan sebagai pit stop, pemeriksaan keamanan dan pencatatan.
.
Titik-titik penting itu ada di pelabuhan Yaman, Jeddah, Suez, pelabuhan Teluk yang saat itu cukup panas karena ada negara Syiah Shafawiyah yang suka merongrong Makkah-Madinah. Mereka juga membangun angkatan militer khusus yang mengawal jalur Samudera Hindia untuk melindungi kafilah Haji dari India dan Nusantara.
.
Referensi :
1. Qawafil Al Hajj fil Ashr Al Utsmani, oleh Ash Shafshafi Ahmad Al Quthuri, situs Islamstory
2. Rukb Al Hajj wa As Shurrah As Sultaniyah Mâ Baina Qarn XVI - XIX, oleh Namir Husein.
3. Ar Rahalat Al Hijaziyah, Muhammad Shadiq Pasha.